Senin, 27 April 2009

Penyembah Mesin Absensi

Sedikit curhatan di sela-sela pekerjaan yang tidak terlalu menumpuk. Mulai awal tahun ini, kantor tempat saya bekerja menggunakan sistem finger print untuk absensi kehadiran karyawan. Alasannya ingin meningkatkan tingkat kedisiplinan karyawan. Saya setuju ! Tetapi sekarang saya bagaikan penyembah mesin absensi, terbirit-birit berangkat ke kantor hanya untuk datang tepat waktu. Terburu-buru hanya untuk menghindari potongan gaji atau menghindari SP dari HRD. Padahal sesa

Parahnya yang terjadi pada diri saya, saya seorang pekerja yang juga mahasiswa dengan domisili rumah yang cukup jauh dan kegiatan di kampus yang seabrek, yang tentu saja menyita banyak waktu. Jujur saja sangat berat untuk mengatur waktu dan tenaga. Tapi apalah daya, saya hanya seorang buruh. Hanya bisa menjalani sistem yang ada, kalau melawan saya akan di lempar.

Sejauh ini, ada perubahan sih absensi saya dari bulan kemarin. Mengingat potongan gaji kemarin yang cukup membuat saya mengerutkan dahi dan membatalkan rencana beli kaos (lagi). Saya jadi lebih rajin, tapi kenapa saya merasa tidak nyaman ya? Saya merasa "fake" dalam pekerjaan. Buru-buru datang hanya untuk sebuah absensi. Apa ya? seperti hanya sebuah tanda saja. Jadi pekerjaan kita hanya dilihat dari absensi saja, bukan dari apa yang kita kerjakan.

Aneh bukan? atau hanya saya saja yang merasa aneh? Seolah-olah saya bekerja hanya untuk sebuah absensi. Ya saya penyembah mesin absensi. Karena meskipun saya datang dan bekerja, tetapi jika tidak tertera absen saya. Saya tidak akan mendapatkan upah. Semoga saja mesin itu tidak error atau rusak, karena kasian pekerja yang bekerja mati-matian dan ternyata mesin itu tidak sejalan. Karena mesin hanyalah buatan manusia, manusia saja bisa error apalagi buatannya.

Viva la KAUM BURUH PENYEMBAH MESIN ABSENSI !!

Jumat, 24 April 2009

T2 Dalam Sebuah Perjalanan

Ini cerita akhir minggu kemarin, kami dari T2 (Tomi-Tya) melakukan perjalanan ke kota Malang. Tujuannya ikut workshop "Jangan Takut Bikin Film" yang diadain sama Societo UB (Univ Brawijaya) dan sekalian jalan-jalanlah. Berwisata !. Dengan budget yang minim kita nekat berangkat, hanya ada satu tujuan menghilangkan penat. "Low budget traveling" istilah tepatnya.

Jumat, 17 April 09
Dari terminal Tirtonadi Bus dari Solo-Malang rencananya berangkat sekitar jam 21.00 atau 21.30, dan ternyata kita harus menunggu dengan obrolan2 ga penting sampai jam 22.30 bus baru berangkat. Padahal saya sudah berada di terminal sejak jam 20.30, cukup berbusa juga saya menghabiskan obrolan dengan Tya.

Dalam sesi obrolan kita, Tya berkelakar "inget tom, kita bakal tiga hari barengan ampe bosen dah lo liat gw, muntah-muntah dah lo"
Hahaha, saya menjawab goblok "tiga hari untuk selamanya ya".

Dalam perjalanan berangkat, kita kayak orang berantem. Begitu duduk di bus, malah dengerin mp3 masing-masing, dan akhirnya terlelap tidur.

Sabtu, 18 April 09
Sekitar jam 4.30 pagi, bus udah nympe kota Malang di Terminal Arjosari dan saya dapati Tya membeku. Akhirnya teh anget melumerkan tubuhnya. Kita di jemput Pency (teman saya) dan anak2 Societo naik mobil. Dianterlah kita ke sebuah rumah tua, dengan plakat depan "DIJUAL, HUB. XXX". Rumahnya nyaman sih, tapi kamar mandinya yang klasik dan berdebu cukup seram bagi seorang wanita. Saya mah, cuek-cuek saja, kalo Tya harus nahan pup ampe 2 hari.

Sempat tidur sebentar, akhirnya jam 10.30 WIB kita menuju Samantha Krida UB buat nonton film dan ikut workshopnya. Sarapan di kampus UB dengan ayam goreng dan es degan cukup mengganjal. Dari siang ampe malam jam 21.00 WIB kita hanya berkutat di UB. Dan malamnya kita di ajak nongkrong sama anak2 KINE UMM dan KINNE UPN SURABAYA buat nongkrong di SOB yang punya menu spesial STMJ. Banyak obrolan di sana, dan Tya yang mengantuk udah mulai ga nyambung buat di ajak ngobrol. Akhirnya kita balik ke rumah inap jam 01.00 WIB, bermalamlah kita di sana bersama Pency dan salah satu teman dari Societo.

Minggu, 19 April 09
Kita bangun sekitar jam10.00 WIB, mandi dan berberes untuk jalan-jalan. Dian anak Societo berbaik hati memberikan kita sarapan sate ayam, hmmm yummy. Rencananya mau ke Batu, tapi apa daya mendung menggantung dan kita hanya bisa bermain-main keliling UB dan Kota Malang. Oya, siang itu Tya akhirnya bisa pup di kost salah satu anak UB. Lama banget katanya, yang nungguin aja ampe ketiduran. Habis makan siang Mie Pangsit, si Agung anak HomeBand ngajakin liat pameran Lomo anak-anak MAMOGRAPH (Malang Lomograph). Dan sekalian diajakin diskusi soal lomo, padahal niatnya ga ikutan. Tapi it's ok, orang-orangnya asik kok.

Sorenya kita jalan ke Alun-Alun Malang ditemani rintihan gerimis hujan. Makan jagung bakar dan ngobrol ringan bareng Pency dan Agung. Dan jam 18.30 kita menuju terminal Arjosari buat bus keberangkatan jam 19.00. Nunggu bentar akhirnya bus berangkat jam 19.30, dan hanya satu di otak kita "kembali ke rutinitas di Solo". Mental kita sangat dipermainkan di dalam bus.

Tya ngomong "Malam terakhir tom, ga tidur yo"
Saya mah gampang aja menjawab "boleh, sapa takut?"

Akhirnya kita ngobrol panjang lebar sambil dengerin MP4 Tya, satu headset dua telinga. Playlistnya mulai dari Maliq, Saosin, Tompi, Vertical Horizon (kebetulan band ini kita sama2 suka), dll. Sampai di Ngawi, bus berhenti buat makan malam. Rencana kita cuma mau pipis, karena emang cukup mahal makan di situ. Tapi apa daya, perut sudah meraung-raung. Makanlah kita di sana. Habis makan, kita dengan percaya diri naik ke dalam bus bernama HANDOYO, berwarna Orange, berstiker EURO 2009.

Dalam hati saya berkata "perasaan salah bus dah, kok orang-orangnya beda"

Dan memang benar, kita salah masuk bus. Bus dengan nama, warna, stiker yang sama berjajar bersebelahan.

"Anjrit ! salah bis Tom" kata Tya.

Dan turunlah kita dengan cekikikan, tai beudz dah ! Pindah bus yang benar, lanjut ngobrol dan akhirnya tertidur.

Senin, 20 April 09
Dini hari sekitar jam 01.00 WIB, saya dibangunin pak Kondektur. Turunlah kita di Terminal Tirtonadi. Tujuan berikutnya adalah Solo Radio, karena motor saya tinggal di situ. Dari terminal ke Solo Radio, kita jalan kaki. Saya pikir dekat, ternyata jalan harus makan waktu 30 menit.

Tya langsung naik pitam, "Anjing lo Tom! ini tu jauh banget tengah malem pula. Habis ini gw ga bakal percaya sama lo"

Saya hanya bisa tersenyum, dan maap sewaktu berjalan kaki itu saya kentut berkali-kali. Tambah jengkel dah Tya sama saya. Sudahlah, akhirnya Tya saya antar ke kost jam 02.00 WIB. Kita pulang, tidur, dan hari Senin melanjutkan rutinitas seperti biasa.

Sampai jumpa di perjalanan T2 yang lainnya. Viva la low budget traveling !! tunggu foto-fotonya beberapa waktu lagi.

Jumat, 10 April 2009

Akhirnya Saya Menghabiskan Malam Tanpa Tidur

Hari kamis kemarin, setelah semua orang membicarakan pemilu dan segala bentuknya saya memilih diam. Cukup mencontreng dan meyakini dengan pilihan saya. Apapun hasilnya kita bisa lihat nanti. Baik-buruknya sebaiknya kita tanggung bersama, tidak ada gunanya mencaci maki satu sama lain. Cukup menjalani yang terjadi dan memperbaiki kesalahan yang telah berulang.

Sorenya saya berangkat ke kantor dengan segala pengharapan saya menemukan hal baru disaat titik jenuh melanda pekerjaan. Tetapi tidak, semua sama saja dan terjadi pengulangan yang serupa. Saya masih menjalani yang sudah saya jalani sebelumnya, karena ini memang sebuah kewajiban dalam pekerjaan. Tengah malam tiba-tiba terbesit pikiran untuk mendinginkan diri dengan alkohol. Tapi kebetulan tidak ada teman minum waktu dikantor.

Setelah jam kerja selesai, saya langsung memilih keluar kantor untuk sekedar mencari hal yang saya inginkan (tapi saya tidak tahu apa). Dan pikiran saya tertuju untuk mampir di sebuah warnet di Solo Baru tempat kerja beberapa teman di GELAGAT HITAM. Dan dari sebuah obrolan-obrolan ringan sampai berat, kepulan asap Djarum Super dan CIU hangat dari Mas Imung kita berbincang hingga subuh menjelang. Sebuah hiburan baru menurut saya, teman yang biasanya hanya berkomunikasi di dunia maya bisa berbincang secara nyata.

Lalu apa yang saya dapat ? Mabuk ? Ngantuk ? atau Suntuk ? tidak kawan. Saya dapat 'makna'. Sebuah interaksi yang jarang dilakukan (mengingat kesibukan masing-masing) tapi mengungkap berbagai fakta. Soal prinsip, ideologi, atau apa itu tidak saya bicarakan disini, tapi esensi lain dari sebuah malam dapat saya ambil waktu itu.

Dan saya kembali pulang dengan sisi personal saya sendiri, melaju ditengahnya embun dan deretan penjual sayur pagi di pasar. Sesampainya dirumah, saya menyapa orang-orang rumah dengan senyuman. Meskipun saya tahu mama akan murka jika beliau mengetahui apa yang saya lakukan, tapi saya senang dengan senyumnya dipagi ini. Sebelum saya tidur, saya sedikit membaca buku "Menolak Postmodernisme" sebagai pengantar tidur.

Oya, playist saya selama perjalanan pulang :
1. Kings Of Leon - Closer
2. Black Tide - Black Abyys
3. Lamb Of God - Contractor
4. Black Tide - Show Me The Way
5. Kings Of Leon - Use Somebody

Malam yang panjang dan menyenangkan, semoga semua makhluk berbahagia.

Jumat, 03 April 2009

Parto Kaum Buruh

Parto menangis ketika menerima slip gaji bulan ini, dia harus menerima kenyataan pahit karena uang hak atas kerjanya harus mendapat potongan. Perusahaan beralasan, keterlambatan adalah tindakan indisipliner jadi selayaknya gaji Parto dipotong. Ya nilainya serupa dengan dua dus susu untuk anaknya. Untung, Lela istri Parto air susunya masih keluar lancar. Cukuplah untuk menyusui Parto dan anaknya.

Setiap pagi, Parto harus bangun lebih awal hanya untuk sekedar membeli lauk untuk sarapan atau menyapu area rumah dan halaman. Setelah beberapa aktivitas tadi, Parto harus menyiapkan diri untuk berangkat bekerja. Parto selalu naik Angkutan Umum Jalur Selatan untuk menuju tempat kerjanya. Ya kira-kira memakan waktu setengah jam lah. Tapi namanya juga jalanan, kondisi penumpang sepi atau malah jalan yang macet membuat angkutan berjalan lebih lambat. Alhasil, Parto selalu datang lebih lambat dari teman-teman lain sekantornya.

Meskipun suka terlambat, Parto memiliki dedikasi sendiri terhadap pekerjaannya. Parto bisa mengatasi keterlambatan kehadirannya dengan kemunduran jadwal pulangnya dan tentu pekerjaan yang selalu dilibasnya habis. Intinya dia selalu ada tanggung jawab terhadap kerjaannya. Tapi namanya juga mesin absensi yang dipakai perusahaan. Kita seperti menyembah mesin absensi, daripada menyembah monitor. Satu menit atau dua menit terlambat itu sangat berarti kawan.

Dan Parto si kaum buruh pun tetap bertahan dengan pekerjaan itu. Entah apa yang dihasilkan yang penting eksistensinya. Dan sampai sekarang, Parto masih menangis meratapi potongan gajinya. Karena potongan gajinya dia harus berbagi susu dengan anaknya.